Jumat, 06 April 2012
poison berries
Everyones had their own problem. so do Lily. She's got a big trouble with her closed friend Fadma. they're both fallin' in love with da same boy. he is Dion.
Lily sudah berteman dengan Fadma dari kecil. Namun, kelas 4 Sekolah dasar sampai kelas 3 Sekolah menengah pertama Lily dan keluarganya pindah ke Kalimantan karena Ayahnya yang pindah tempat dinas. Pada tahun ajaran baru di Sekolah menengah atas ini keluarga Lily pindah lagi ke Bandung.
Fadma sudah mengetahui rencana kepindahan Lily dari 2 bulan sebelumnya. Mereka tetap menjalin komunikasi melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Sesampainya Lily di Bandung, Fadma menyambutnya dengan hangat.
"elo gemukan deh" kata Lily sambil memeluk Fadma. Ia sangat merindukan sahabat lamanya itu. Semasa liburan mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Pergi ke tempat rekreasi, berenang, ke-Mall, bahkan ke salon.
Tahun ajaran baru dimulai, mereka sepakat untuk masuk di SMA yang sama. MOS berlangsung 3 hari, Lily dan Fadma berada di kelompok yang berbeda. MOS sudah lewat, semuanya asik seperti yang mereka bayangkan
Hari pertama belajar, Fadma dan Lily satu kelas (lagi) hampir setiap satu sekolah mereka berada di kelas yang sama, kecuali kelas 3 SD kemaren. Bulan demi bulan di kelas 10 mereka jalani dengan sebisanya. 1 semester telah mereka lewati, sekarang bulan Februari. Lily melihat Fadma menangis di sudut koridor sekolah. Lily mendekat, ia bertanya kenapa Fadma menangis, Fadma tidak menjawab, ia hanya memeluk Lily sebentar dan pergi entah kemana.
Saat dijalan pulang sekolah, Lily mencoba menanyakan lagi hal tadi kepada Fadma. Fadma memberi tahu bahwa ia baru saja menyatakan perasaannya terhadap seorang laki-laki yang dia taksir baru-baru ini. Namanya Dion, anak seorang pengusaha mebel ternama di kota Bandung. "Terus dia bilang apa?" tanya Lily. Fadma berhenti berjalan, menundukkan kepalanya. "Dia suka sama kamu ly" jawab Fadma tersenyum dengan air mata, lalu ia tertawa kecil "Lucu ya, kok gue ga bisa nebak kalo dia suka kamu, padahalkan kelihatan banget". Lily tertegun, beberapa saat setelahnya Fadma berjalan cepat meninggalkan Lily.
Sorenya di kamar, Lily memikirkan perkataan Fadma tadi siang. "Dion suka sama aku?" Sebenarnya Lily pun sering memperhatikan tingkah laku Dion dari jauh. Dia lucu, apa adanya, dan sangat menghormati perempuan. Saat MOS mereka satu kelompok. Dulu Lily pernah membayangkan kalo Dion itu mungkin laki-laki yang tepat untuk dijadikannya pacar di SMA ini.
Ada yang mengetuk, Lily membukakan daun pintu berwarna pink di kamarnya. Fadma datang. Ia menjelaskan tentang kejadian tadi siang sedetil-detilnya. "Dia sudah suka sama kamu sejak Agustus kemaren li, waktu kamu minjem topinya, inget ga? dia bilang kamu yang pertama bisa bikin dia gugup kalo deket kamu. dia juga bilang, dia terlalu takut untuk ngedeketin kamu, dia takut kamu ada pacar. kalian serasi ly" Air mata mulai menggenangi mata Fadma, ia melihat ke atas, ke loteng Lily yang ditempeli bintang-bintang plastik.
"Nanti malem aku pindah ke Aceh ly, kayanya ini kepindahan aku yang terakhir, Papa mungkin bakalan netep dinas disana. Aku boleh minta tolong?" Lily mengangguk. "kalo besok Dion berusaha ngedeketin kamu, jangan kamu acuhin ya. Aku nitip dia ke kamu. pokoknya kalian musti jadi pasangan paling serasi yang pernah aku liat"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar